Q: Apa perbedaan longsor dan gerakan tanah?
A: Longsor merupakan salah satu tipe gerakan tanah yang pergerakannya cepat. Sedangkan untuk yang pergerakannya lambat disebut dengan rayapan (creep). Gaya gravitasi mempengaruhi pergerakan masa tanah dan berbagai material lepas lainnya menuruni lereng bukit atau gunung.



Q: Dimana longsor dapat terjadi?
A: Umumnya longsor terjadi di area yang memiliki kemiringan yang terjal. Namun sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi longsor dapat terjadi seperti hujan lebat yang terus menerus, gempa, gunung api, kebakaran hutan termasuk kegiatan manusia seperti penebangan hutan atau pembukaan lahan secara berlebihan. Longsor juga dapat terjadi di darat dan di bawah permukaan air (laut atau danau).
Q: Jadi apa saja yang dapat memicu terjadinya longsor?
A: Hal utama yang dapat memicu terjadinya longsor adalah air, gempa dan aktivitas gunung api. Pemicu tersebut dapat menyebabkan longsor pada daerah yang tidak stabil dengan faktor-faktor pengontrol seperti di bawah ini:


Q: Mengapa air bisa memicu terjadinya longsor?
A: Kandungan air yang tinggi di dalam tanah membuat tanah menjadi tidak padat, semakin berat dan berkurangnya kekuatan mengikat tanah sehingga dapat mengalir ke tempat yang lebih rendah. Meningkatnya air dalam tanah bisa disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan terus menerus, dekat dengan sungai, maupun yang disebabkan oleh manusia seperti bocornya air saluran irigasi dan selokan ke dalam tanah.
Q: Bagaimana dengan gempa?
A: Gempa adalah salah satu pemicu utama terjadinya longsor. Getaran atau goyangan yang diakibatkan oleh gempa membuat material tanah batuan dan tanah khususnya di lereng bukit atau gunung menjadi tidak stabil dan mengalir, meluncur, atau jatuh ke bawah.
Q: Bagaimana kaitannya longsor dan aktivitas gunung api?
A: Material hasil letusan gunung api dapat bergerak menuruni lereng gunung dengan sangat sehingga dapat menghasilkan longsor. Material debris vulkanik ini juga dikenal sebagai lahar. Kepundan atau kawah gunung api juga rentan untuk runtuh. Jika material longsoran tersebut masuk ke air maka dapat menggerakkan massa air sehingga terjadi tsunami, seperti tsunami selat sunda yang disebabkan oleh letusan Gunung Anak Krakatau.
Q: Berarti longsor juga bisa mengakibatkan tsunami ya?
A: Ya, tidak hanya longsor yang berkaitan dengan gunung api, namun semua jenis longsor dengan material yang banyak masuk ke dalam tubuh air seperti danau dan laut/teluk juga dapat menghasilkan tsunami seperti ilustrasi di bawah ini.

Longsor di lereng bukit/pegunungan dengan sungai di lembah dapat menghasilkan tanggul alam yang menahan aliran air sungai. Apabila jumlah air meningkat terus (seperti hujan deras terus menerus), tanggul alam tersebut dapat jebol dan menghasilkan banjir bandang atau aliran debris atau lumpur ke arah hilir.

Q: Lalu bagaimana kita tahu kita tinggal di daerah rawan longsor atau tidak?
A: Hal yang paling gampang selain memperhatikan faktor-faktor pengontrol seperti yang telah dijelaskan di atas adalah dengan dengan melihat peta potensi atau perkiraan longsor/pergerakan tanah yang dapat diakses di http://vsi.esdm.go.id/

Q: Bagaimana kalau ternyata kami tinggal di daerah dengan potensi gerakan tanah/longsor tinggi? kami sudah turun temurun tinggal di sini, haruskah kami pindah?
A: Tidak perlu panik dan takut berlebihan apabila ternyata tempat tinggal kita berada di zona rawan longsor. Yang penting adalah waspada dan selalu siap siaga. Hal yang paling aman tentu saja pindah ke daerah yang lebih aman (potensi gerakan tanah rendah), namun apabila hal tersebut tidak dapat dilakukan, maka dibutuhkan mitigasi bencana dengan literasi bencana dan tata ruang wilayah agar daerah tempat tinggal tetap dalam kondisi stabil. Contohnya tidak melakukan penebangan pohon atau pembukaan lahan secara berlebihan, karena pohon yang memiliki akar panjang akan mengikat lapisan tanah sehingga longsor tidak mudah terjadi.
Mengutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat rekomendasi untuk menangani daerah rawan longsor:
- Implementasi penataan ruang dan pemanfaatan ruang merupakan kunci untuk mengurangi risiko bencana longsor.
- Pengurangan risiko bencana harus menjadi pengarusutamaan dalam pembangunan nasional.
- Perlu ditingkatkan budaya sadar bencana, baik yang bersifat struktural maupun nonstruktural.
- Peringatan dini longsor, sosialisasi, penegakan hukum dan lainnya harus ditingkatkan.
- Permukiman perlu ditempatkan pada daerah yang lebih aman dengan sistem klaster di berbagai lokasi. Pemilihan lokasi mempertimbangkan analisis risiko bencana dan tata ruang detail.
- Konservasi berbasis biogeo-engineering. Pada lembah-lembah perbukitan perlu ditanami dengan pepohonan jenis kayu yang memiliki perakaran dalam yang berfungsi sebagai penahan longsor. Buffer zone antara kawasan perlindungan (kelerengan tinggi) dengan kawasan budi daya di bagian bawahnya dibuat dengan tanaman pohon yang kuat, ditanam rapat dan membentuk sabuk hijau yang tebal/berlapis. Jenis vegetasi yang perlu ditanam pada daerah-daerah lembah adalah jenis tanaman lokal yang sudah nyata terbukti tumbuh dengan baik di daerah tersebut. Beberapa jenis pohon yang dapat ditanam adalah: jenis pohon puspa (Schima walichii), rasmala (Altingia excelsa), huru (Litsia chinensis), surian (Toona sureni merr), bambu manggong (Gigantochloa manggang), kayu baros (Manglietia glauca bl), dan sukun.
- Lahan dengan kelerengan lebih dari 40 derajat dipertahankan sebagai kawasan lindung berupa ekosistem hutan alam dengan kerapatan pohon yang tinggi. Satu hektare lahan ditanami 400 pohon.
- Perlu dibangun sistem peringatan dini longsor berbasis kondisi geologi dengan aspek dinamis curah hujan.
Referensi: Highland, L. and Bobrowsky, P.T., 2008. The landslide handbook: a guide to understanding landslides (p. 129). Reston: US Geological Survey. Plummer, C.C., Carlson, D.H. and Hammersley, L., 2015. Physical geology. New York, NY: McGraw-Hill/Education, Inc. https://news.detik.com/berita/d-4368875/bnpb-409-juta-jiwa-tinggal-di-daerah-rawan-longsor

